Minggu, 30 Desember 2012

ulama ulama atjeh

ULAMA -ULAMA ATJEH



Aceh dan Islam seolah bagai dua sisi mata uang yang satu sama lain saling keterkaitan. Banyak ulama yang lahir dan besar di Aceh. Ulama-ualam itu kemudian ada yang menjadi simbol keperkasaan Aceh. Kendati telah ‘tiada’ mereka tetap kharisma di hati ureueng Aceh. Berikut tuhoe memaparkan beberapa ulama kharismatik tersebut. Tentunya masih banyak nama-nama lain yang tak sempat terekam dan tak mungkin termuat di halaman yang sempit. Adapun nama-nama di bawah ini adalah sampel betapa ulama menjadi ikon bagi Aceh.
Sheikh Muda Waly
Syeikh Muda Waly al-Khalidy An-Naqsyabandy al-Asyiy dilahirkan di Gampông Blangporoh, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan. Anak bungsu dari Sheikh H.Muhammad Salim bin Malin Palito ini lahir pada 1917. Sheikh H.Muhammad Salim berasal dari Batu sangkar, Sumatra Barat. Datang keAceh Selatan selaku dai. Sebelumnya, paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Pelumat dengan nama asli Sheikh Abdul Karim telah lebih dahulu menetap di Labuhan Haji.
Saat sampai di Labuhan Haji, Sheikh Muhammad Salim dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat, putri seorang geuchik yang bernama Geuchik Nya` Ujud, berasal dari Kota Palak, Kecamatan yang sama. Janadat meninggal dunia saat melahirkan adik dari Sheikh Muda Waly.
Nama Syeikh Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly. Saat berada di Sumatra Barat, beliau dipanggil dengan gelar Angku Mudo atau Angku Mudo Waly atau Angku Aceh. Setelah kembali ke Aceh, masyarakat menyapanya dengan Teungku Muda Waly. Beliau sendiri sering menulis namanya Muhammada Waly atau lengkapnya Syekh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy.
Ibrahim Woyla
Tahun ini, tepatnya 18 April lalu, masyarakat Aceh digemparkan dengan wafatnya seorang ulama kharismatik Aceh. Beliau adalah Tgk. Ibrahim Woyla. Mayoritas masyarakat Aceh sudah menganggap sosok Tgk. Ibrahim sebagai aulia Tuhan. Karena itu, Aceh sempat heboh atas kepulangan Tgk. Ibrahim.
Berdasarkan informasi dari sejumlah media lokal, Tgk. Ibrahim menyisakan isak tangis yang panjang dari masyarakat. Bahkan, masyarakat Aceh menangis sejak sore hingga malam hari, di rumah duka, di Woyla, Aceh Barat.
Sosok Tgk. Ibrahim sudah hidup di hati masyarakat Aceh sebagai orang suci. Masyarakat kerap meminta hajatan dan doa darinya. Sebelum wafat, kondisi Tgk. Ibrahim tidak menunjukkan tanda-tanda orang sakit, meski usianya telah mencapai 130 tahun. Menurut kepercayaan masyarakat Aceh umumnya, Tgk. Ibrahim kerap bepergian ke beberapa daerah di Aceh. Bahkan, ia dipercaya acapkali menunaikan salat Jumat di Mekkah, tetapi dapat kembali pada hari Jumat itu juga.
Abu Idi Cut
Belum kering air mata masyarakat Aceh atas kepulangan Tgk. Ibrahim Woyla ke haribaan Tuhan, Selasa, (12Mei) tahun yang sama, sekira pukul 18.15 WIB, giliran Tgk. H Abdul Wahab Hamid, mempersembahkan amal ubudiyahnya di sisi Allah swt. lelaki yang akrab disapa dengan Abu Idi Cut ini wafat dalam usia 78 tahun.
Abu Idi Cut merupakan pimpinan Dayah Darussadah, Idi Cut. Kabar dari media lokal, ia meninggal dunia akibat penyakit komplikasi yang dideritanya sejak beberapa tahun sebelumnya. Jenazah almarhum disembahyangkan oleh ribuan warga Aceh yang melayat ke rumah duka, di komplek dayah Darussadah.
Saat pelaksanaan salat jenazah, sempat terjadi antrian sangat panjang sehingga pelaksanaannya terpaksa dilakukan secara bergelombang. Sejumlah ulama Aceh dan Aceh Timur juga turut hadir dalam prosesi pelepasan jenazah Abu Idi Cut.
Abu Idi Cut memimpin Pondok Pesantren Darussaadah Idi Cut selama lebih kurang 42 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri Hajjah Nurhayati dan empat orang anak, masing-masing Hajjah Tusalwati, Hajjah Muzkiyati, Hajjah Fadillah A.Mk, dan Tgk Iskandar Akhi.
Ali Hasjmy
Nama aslinya Muhammad Ali Hasyim Alias Al Hariry. Anak kedua dari 8 bersaudara ini memiliki seorang ayah bernama Teungku Hasyim, pensiunan pegawai negeri. Tahun 1975, Ali Hayim yang kemudian akrab disapa Ali Hasjmy ini diangkat sebagai guru besar (Prof) dalam ilmu dakwah oleh perguruan tinggi IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Ali Hasjmy juga dikenal sebagai sastrawan, ulama, dan tokoh daerah.
Ali Hajmy pernah menjabat Gubernur Aceh periode 1957-1964 dan Gubernur Diperbantukan Menteri Dalam Negeri Jakarta periode 1964-1968. Hasjmy menikah dengan Zuriah Aziz pada tanggal 14 Agustus 1941, saat berumur 27 tahunistrinya berumur 15 tahun (lahir pada Agustus 1926).
Hasjmy dikaruniai tujuh putra-putri, yaitu (1) Mahdi A. Hasjmy, (2) Surya A. Hasjmy, (3) Dharma A. Hasjmy, (4) Gunawan A. Hasjmy, (5) Mulya A. Hasjmy, (6) Dahlia A. Hasjmy, dan (7) Kamal A. Hasjmy.
Syekh Abdurrauf
Syekh Abdurrauf as-Singkili lahir pada 1024 H/1615 M. Ia merupakan seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala. Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili.
Menurut riwayat yang ada, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, akhir abad ke-13. Masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri, kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji. Dalam proses pelawatannya, ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.
Syekh Abdurrauf meninggal dunia pada tahun 1693, dalam berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, Gampông Deyah Raya, Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh. Kini nama beliau ditabalkan pada sebuah perguruan tinggi ternama di Aceh, Universitas Syiah Kuala


                                                                         




     abu wayla


       

Nama Para Ulama Aceh

Ulama Aceh dalam Naskah Jawi/Jawoe
A.  Naskah Teungku Di Cucum ( Tambeh Gohna Nan )
  1.  Teungku Di Lueng Keueng
  2.  Abunek Krueng Kale
  3.  Teungku Gle Payong
  4.  Teungku Keuneu’eun
  5.  Teungku Di Anjong
  6.  Teungku Di  Li -eue
  7.  Teungku Lam Bhuek
  8.  Teungku Di Jurong
  9.  Teungku Lam Gut
  10.  Teungku Di Bitai
  11.  Teungku Gle Weueng
  12. Teungku Di Reuloh
  13.   Teungku Di Blang
  14.   Teungku Di Meugong
  15.   Teungku Di Jabo
  16.   Tuwan Di Pulo
  17.   Teungku Lhok Pawoh
  18.   Teungku Lhok Nibong
  19.   Teungku Di Pu-uek
  20.   Teungku Di Meuse
  21.   Teungku Syekh Saman
  22.   Syiah ‘Abdurrauf ( halaman 19 – 20 )
  23.    Teungku Di Ulee Gle
  24.    Teungku Awe Geutah
  25.     Teungku Batee Badan
  26.     Teungku Ulee Jurong ( sama dgn no. 8 di atas?)
  27.     Teungku Di Bathoh
  28.     Teungku Di Peulumat
  29.     Teungku Pante Peulumat
  30.     Teungku Tanoh Mirah
  31.     Teungku Tanoh Abee
  32.     Teungku Gunong Ijo
  33.      Teungku Di Baet
  34.     Teungku Bak Keureuma
  35.     Teungku Di Cot Bak Goeh
  36.    Tuwan Di Cantek
  37.     Teungku Salah Nama
  38.      Teungku Anoe Manyang
  39.      Tuwan Pulo Angkasa
  40.      Teungku Paya Duwa
  41.      Teungku Di Gandrien
  42.      Teungku Lam Guha ( gelar atau sekedar sebutan?)
  43.      Teungku Lam Duson ( ada orangnya atau hanya sebutan?)
  44.      Teungku Syik Krueng Kale ( sama dgn no. 2 di atas?)
  45.       Teungku Batu Bara
  46.       Teungku Di Aron ( halaman 142, 152 – 174 )
       

Abuya Muda Waly Di Mata Abu Keumala

dayah-darussalam April 6, 2012 0
Abuya Muda Waly Di Mata Abu Keumala
HARI AHAD
Setelah fajar terbit,Abuya sudah berada didalam Mushallanya yang terletak dalam Baitul Taklif untuk mempersiapkan diri menghadapi Shalat Shubuh .Setelah masuk waktu beliau melaksanakan Shalat berjama`ah dengan murid –murid laki-laki dan perempuan yang memang sudah menunggu sebelumnya . Seusai Shalat Shubuh dan Wirid yang biasanya dilakukan dan do`anya,jama`a h yang mengikuti Abuya meninggalkan mushalla menuju kepada kegiatannya masing-masing .Sedangkan Abuya masih tetap duduk di mushallanya menghadap kiblat.
- Wirid Abuya
Disinilah Abuya mulai berwirid khusus yang mengandung do`a dan munajat,tasbih,dan taqdis,tahmid,tahlil,dan takbir.selain itu dirangkai pula dengan bermacam –macam bentuk bacaan Shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW.Dalam wirid ini juga, Abuya merangkaikan pula dengan berbagai Hizbul Auliya,antara lain Hizbun nashar,Hizbul bahar(Asy Syazili)Hizbun Nawawy,Hizbul Ustad al ustad Al Bayyuni,Al Jaljalud dan Hizbun lainnya . Abuya mengucap zikir,doa ,dan munujat ini dengan suara sirriyah dan jahriyah yang memilukan hati bagi parang mukmin yang mendengarkanya.abuya mengucapkan semua zikir ini diikuti oleh seluruh anggota tubuhnya ikut bergerak seirama dengan suaranya dan sesuai dengan makna dan maksud munajat yang diucapkan,yang menyangkut dengan kasih sayang serta rahmat Allah dan yang menyangkut dengan amarah serta siksa Allah kepada orang kafir dan maksiat kepadaNYa .Menurut kebiasaan yang kami perhatikan,setiap harinya Abuya mengakhiri wiridnya dengan doa pada jam 10.00 siang .
- BUSTANUL MUHAQQIQIN
Setelah selesai berwirid Abuya mempersiapkan diri dengan sarapan pagi dan mengenakan pakaian sebagai guru besar untuk menuju ruangan Bustan(ruangan Abuya mengajar)yang diiringi oleh beberapa orang khadam.Sesampai Abuya di pintu ruangan,semua murid yang telah menungggu di ruangan berdiri pada tempatnya masing –masing sehingga Abuya duduk diatas kursinya.lalu satu demi satu murid menjabat tangan Abuya dan kembali ketempatnya .Perlu diketahui bahwa kitab – kitab pelajaran yang akan diajarkan sudah tersedia diatas meja Abuya,yang terdiri dari;
1. Kitab Tuhfatul muhtaj (Al Fiqh)
2. Kitab Jam`ul jawami`( ushul Fiqh)
3. Kitab Syuruh Talkhis(Al Ma`ani)
4. Kitab Asy Syamsiyah (Mantiq)
5. Kitab Hikam Ibn `Athaillah (At Tauhid Wat Tashwwuf)
Dengan penuh khidmat Abuya mulai mengajar dengan bertanya halaman kitab yang bakal Abuya ajarkan dan kalimat di mulai bacaanya . (Ruangan Bustan berukuran ± 8×9 m,di dalam nya paling depan terletak sebuah meja besar(1,5×1 m)dan kursi pusing khusus untuk Abuya,dan didepan meja Abuya terletak beberapa meja kecil dan kursi yang tersedia untuk murid- murid.) – Abuya mulai mengajar Abuya mengajar dengan 2 metode;
1. Abuya membaca dan menjelaskan seperlunya,kemudian Abuya meminta kepada murid – muridnya untuk mempersoalkan (i`tiradh) atas masalah yang sedang dibicarakan.
2. Murid yang membacakan serta menjelaskan,kemudian diminta kepada murid–murid yang lain untuk mengi`tiradhkannya atas masalah yang sedang dibacakannya itu termasuk Abuya sendiri. Akhir i`tiradh semua masalah tersebut,Abuya sendiri yang mengatakan cukup .Cara Abuya mengajar demikian,khusus pada kitab Tuhfatul Muhtaj,sedangkan kitab- kitab yang lain Abuya baca sendiri dan memberi penjelasan yang cukup. Demikianlah majlis ta`lim yang dipimpin Abuya mulai jam 10.00 -1.00 siang.Bustan ditutup Abuya diantarkan kembali ke Baitul Ta`lif untuk melaksanakan Shalat Dhuhur berjama`ah.
- Abuya Istirahat
Seusai Shalat Dhuhur Abuya makan siang pada hidangan yang telah disediakan dii Baitul Ta`lif,Abuya kemudian berbaring dalam keadaan santai.pada saat istirahat inilah saya (Tgk.Syihabuddin keumala,lebih terkenal dengan Abu Keumala)dan Tgk Abdul Aziz Samalanga (pimpinan Dayah MUDI MESRA Samalanga )mengambil kesempatan untuk memohon keterangan dan penjelasan tentang masalah yang musykil kami rasakan,seraya kami menunjukkan kepada Abuya Kitab Al Mahalli,lalu Abuya memberikan penjelasan yang cukup dan memuaskan.pada saat kami melihat Abuya dalam keadaan ayung –ayungan kami memohon diri untuk menuju kebilik kami sendiri dan Abuya tidur. Menjelang waktu Shalat Ashar Abuya bangun dari istirahatnya mengasuh diri untuk melaksanakan Shalat Ashar di Baitul Ta`lif.Usai Shalat Ashar serta wirid dan doanya ,Abuya keluar ke Raudhah Riyahin,sebuah kebun bunga yang terletak tidak jauh dari Baitut Ta`lif,sebelah selatan dari menara dan menara ini berdiri di sebelah selatan Abu Syik Salim (Ayah Abuya sendiri). Raudhah yang dimaksud 3×4 m persegi yang ditanami sekelilingnya bunga –bunga laping ,para tamu yang ingin bertemu dengan Abuya dapat langsung menemui beliau di Raudhah ini (waktu bertamu siang hari).beberapa saat kemudian Abuya bangun untuk meninjau Darun yangditentukan seraya diringi oleh beberapa orang khadam,panglima dan tamu-tamu .Dalam peninjauan ini Abuya memberikan petunjuk kepada penghuni Darun yang beliau tinjau tentang ketertiban,kebersihan ,keamanan dan perbaikan lainnya .Akhirnya Abuya dan pengikutnya kembali ke Raudhah .seterusnya di Raudhah ini Abuya mengajar kitab kitab kecil kepada murid murid kelas satu atau kelas dua untuk mendapatkan barakah melalui Abuya,sambil menantikan waktu Shalat MAghrib beliau berdialog dengan para tamu tentang masalah – masalah agama.
SHALAT MAGHRIB (MALAM SENIN)
Seusai shalat maghrib berjamah beserta doanya, jamaah kembali ke tempatnya masing masing dan Abuya meneruskan wiridnya sebagaimana biasanya sampai waktu shalat isya,dan seterusnya selesai Shalat isya Abuya duduk di Baitut Ta`lif yang biasanya sudah ada jamaah tamu yang dekat maupun yang jauh untuk menanyakan masalah –masalah agama,terutama sekali mengenai amal Thariqah,yang demikian itu berakhir sampai jam 12.00 WIB malam .selanjutnya meninggalkan Baitut Ta`lif menuju ke rumah ummi yang telah ditentukan bahagiannya.Demikianlah Wazifah Abuya sampai kepada waktu Shalat Shubuh hari senin (Wazifah Abuya 1×24 jam ).
HARI SENIN
Wazifah Abuya dimulai dengan Shalat Shubuh berjamaah kemudian berwirid sampai jam 09,00.selanjutnya beliau mengasuh ,kemudian Abuya bersiap siap untuk menuju ruangan Bustanul Muhaqqiqin.Abuya mengajar sebagaimana biasa sampai dengan jam 01.00 siang .kemudian beliau kembali ke Baitut Ta`lif untuk melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah .pada saat inilah Abuya mengasuh dan istirahat sampai masuk waktu Shalat Ashar.setelah selesai upacara Shalat Ashar beliau meninjau Darun sebagaimana biasa bila dianggap perlu dan berakhir di arudhah ,disinilah abuya istirahat denag menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau,dibarengi soal jawab tentang agama dan mengajar anak –anak yang sebelumnya telah menunggu Abuya .Keadaan demikian berlalu sampai menjelang shalat Maghrib.
SHALAT MAGHRIB (MALAM SELASA )
Selesai Shalat maghrib dan wirid- wiridnya, Abuya istirahat beberapa saat selanjutnya beliau memberi ijazah Thariqah Naqsyabandi kepada murid laki-laki baik yang tinggal di Darus Salam maupun yang datang dari luar Darus Salam ,hal ini berjalan sampai waktu Shalat isya.seusai Shalat isya Abuya langsung memberikan ceramah yang menyangkut soal Thariqah dan tawajjuh serta dikaitkan dengan amalan suluk.Ada juga yang memberikan cermah dari khalifah –khalifah yang telah abuya tentukan termasuk penulis sendiri (Abu Keumala).selama acara ini juga diadakan soal jawab yangmenyangkut dengan soal Thariqah dan lain lain ,yang demikian berlalu sekurang kurangnya sampai jam 12.00 malam,dan selanjutnya Abuya meninggalkan majlis menuju kerumah ummi yang telah ditetapkan untuk beristirahat sampai menjelang waktu Shalat Shubuh.
SHALAT SHUBUH (HARI SELASA )
Wafizah Abuya pada pagi hari selasa sampai menjelang waktu maghrib berjalan sebagaimana wazifah pada hari senin meskipun disana sini terdapat perbedaan yang tidak diperhitungkan .
SHALAT MAGHRIB (MALAM RABU)
Wazifah Abuya pada malam rabu juga tidak berbeda dengan wazifah dengan wazifah Abuya pada malam selasa kecuali pada pemberian ijazah Thariqah kepada murid-murid perempuan,baik yang tinggal di Darussalam maupun yang diluar.Selesai acara tersebut Abuya meninggalkan ruangan menuju kerumah ummi yang telah ditentukan untuk beristirahat.
SHALAT SHUBUH (HARI RABU )
Wafizah Abuya pada pagi hari rabu sejak pagi hari sampai menjelang shubuh hari kamis bersamaan dengan wazifah hari selasa kecuali pemberian ijazah yang dikhususkan pada malam selasa dan malam rabu.
SHALAT SHUBUH(HARIKAMIS)
Wazifah Abuya pada hari kamis sejak selesai shalat shubuh sampai selesai mengajar di Bustanul Muhaqqiqin dan Shalat Shubuh berjamaah sama gengan wazifah Abuya sebelumnya.Selesai Shalat Dhuhur Beliau istirahat dan bersiap-siap meninggalkan Darus Salam untuk menuju Kampung pauh ,Labuhan Haji,tempat letaknya rumah kediaman Ummi Pauh (ibunda Tgk.Imran Waly).Keberangkatan Abuya ini dari Darussalam menuju Kampung Pauh diantarkan oleh beberapa orang pengasuh dan panglima.Kiranya perlu diketahui jarak antara Darussalam dengan Kampung Pauh ±3km.Abuya tiba di Kampung Pauh menjelang Shalat `Ashar dan beliau Shalat `Ashar berjama`ah.
SHALAT `ASHAR(HARI KAMIS)
Seusai Shalat `Ashar biasanya Abuya memberi ceramah kepada murid-muridnya yang telah hadir menungguu Abuy sebelumnya.Ceramah dan petunjuk-petunjuk ini beliau sampaikan sampai menjelang Shalat maghrib.
SHALAT MAGHRIB (MALAM JUM`AT)
Setelah Shalat maghrib dan wirid seperlunya Abuy aistirahat sampai menjelang Shalat isya.Selanjutnya seusai Shalat isya Abuy memberikan penjelsan tentang ilmu Thariqah dan memberikan jawaban kepadmurid-murid yang bertanya.Wakatu soal –jawab ini berjalan penuh khidmat dan merasa kepuasan semua pihak,sehingga berakhir pada jam 11.00 atau lebih.Selanjutnya Abuya istirahat .
SHALAT SHUBUH (HARI JUM`AT)
Sebagaimana biasanya Abuya melaksanakan Shalat Shubuh dan wirid-wiridnya,berakhir sampai dengan jam 10.00 siang.Lalu Abuya mengasuh diri danbersiap siap untuk menghadiri upacara Shalat Jum`at di Masjid Kampung Pauh.Setibanay Abuya dan rombongan di masjid Kampung Pauh.Setibanya Abuya bersama rombongan di masjid dan muazzinmulai azan pertama.Setelah azan dan jamaah melaksanakan dua rakaat Shalat sunat qabliyah. ABUYA BERKHUTBAH Setelah Abuya naika mimbar dan memberi salam lalu beliau duduk ,kemudian azan kedua dimulai dan setelah azan kedua selesai Abuya bangun menyampaijan khutbahnya Kaifiat khutbahnya ;Mula-mula Abuya menyampaikan serangkaian nasehat dan petunjuk agama pada masalah yang dihadapi oleh masyaradat muslimindengan bahasa Indonesia.Kemudian baru Abuya memulaimembaca khutbah yang pertama dalam bahasa arab penuh,tanpa campuran dengan bahasa Indonesia.Lalu Abuya duduk antara dua khutbah dan selanjutnya beliau bangun untuk membaca khutbah yang kedua hingga selesai . SHALAT JUM`AT Abuya mengumami shalat jum`at sebagaiman yang ma`ruf dilakukan oleh kaum Ahlus sunnah Wal Jama`ah .Selesai Shalat jum`at ,Abuya dan rombongan kembali ke rumah kediamannya di Kampung Pauh dan makan siang.Kami rasa perluu dicatat kaifiat Abuya makan.Setelah selesai hidanganmakanan dihidangkan,penulis melihat piring makanan yang disediakan dihadapan Abuya lebih besar dari pada piring makanan yang lain dan daitas mkanan itu telah dibubuhi lauk pauknya.Lalu para hadirin dipersilahkan untuk memulainya.penulis memperhatikan dengan sungguh-sungguh kaifiyat Abuy makan .Ia memulai dengan Basmalah lalu memegang makanan yang tersediai dihadapannya,sesuap Abuya memulai makan,berceritalah ia tentang keramat para Shahabat dan rahmat tuhan kepad para aulia –auliaNya sambil beliau menyuapkan makanan ke mulutnya dengan suapan kecil.Demikianlah santapan makanan berjalan,jam`ah mendengarkan cerita Abuya sambil menyuapkan makanan seperluanya.Sedang Abuya asyik bercerita dan tidak pernahmenghadap ke piring makanan yang ada dihadapannya,seakan akan kita melihat makanan yang ia makan itu bukan untuk kenyang akan tetapai sekedar hilang lapar saja.pada saat Abuya meliahat jama`ah sekelilingnya sudah merasa puas dengan makanan dihapannya lalu Abuya membasuh tanganny adan diikuti oleh para jama`ah sekaligus cerita Abuya di akhiri.Selanjutnya penulis memperhatikan makanan yang masih banyak tersisa dihadapan Abuya diangkat dan seterusnya panitia membagi-bagikan sebagia mengambil berkah dari makanan tersebut.Demikianlah penulis memperhatiak kaifiat makn Abuya,bukan saja pada tempat ini tetapai juga pada tempat yang laian juga demikian,bukan satu kali tetapi puluhan kali selama penulis mengikuti rombongan Abuya.Maka dapat dikatakan bahwa rohaniyah Abuya sudah cukup kenyang,oleh karena itu kenyang jasmaninya tidak diperhitungkan,sehingga dapat kita lihat Abuya tidak begitu serius menghadapi makanan.Setelah upacara makan bersama berakhir,abuya beristirahat dan para jama`ah bubar munuju ketempatnya masing – masing.

Read more: http://dayah-darussalam.net/2012/04/abuya-muda-waly-di-mata-abu-keumala/#ixzz2GbpB1idi                                                                                                                    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar